Netizen Labil Nan Menyebalkan!

Sering saya temuin Hal – hal menyebalkan yang terus luntang lantung di sosial media saya seakan perlu untuk saya bahas, ada dari Tiktok cringe ayonima sampai ke Netizen bawel yang serba merasa benar.

Untuk konten yang akan saya bedah kali ini adalah tentang masalah perkomenantaran di salah satu platform sosial media terpopuler, Facebook.

Setidaknya ada tiga Poin yang akan saya bahas di artikel kali ini:

  • Kenapa Platform Facebook Menjadi Pembahasan?
  • Ada Apa Dengan Platform Facebook Saat Ini?
  • Permasalahan Utama
  • Kesimpulan saya

Alasan Kenapa Platform Facebook Menjadi Pembahasan?

Facebook adalah salah satu platform yang hingga saat ini masih banyak pemakainya, ada dari umur Anak sampai ke dewasa, bahkan tidak jarang juga saya sering melihat Orang orang tua menggunakanya.

Saya Pribadi sering menggunakanya untuk sekdar mencari hiburan, Meme, dan Video. Tak luput juga saya sering ikut berdebat tentang apapun dengan sesama pengguna Facebook yang mempunyai tujuan yang sama dengan saya.

Ada Apa Dengan Platform Facebook Saat Ini?

Banyak hal yang di sampaikan oleh para pengguna Media Sosial satu ini, ada sebuah Gagasan, Humor, Meme, Bahkan sedang Trend Video Absurd yang di buat Orang Yang di sebut Random Para Tolol.

Karena semakin besar nya Facebook, maka semakin banyak pula Pengguna yang tak tersaring secara penuh, dan tidak menghiraukan sebuah batasan dalam bermain Sosial Media, Maka tak heran Facebook memiliki Dua sisi yang menunjukan kegunaanya, sebagai hal Negatif atau sebagai hal Positif.

Sering kali Melihat hal yang seharusnya tidak di lontarkan oleh orang yang bijak dalam menggunakan Sosial Media, Contohnya dalam sebuah komentar yang akan saya bahas di bawah ini.

Permasalahan Utama Dan Cara Menangkalnya.

Contoh pertama ketika saya menemui sebuah postingan video jenaka di Facebook, jarang untuk saya melihat video nya terlebih dahulu dan langsung mengklik komentar secepatnya, seakan sudah tau apa yang akan terjadi di kolom komentar tersebut.

Komentar seperti “Ah galucu“, “Keliatan editanya“, “kreatif dikit dong jangan ngejiplak doang“, dan sebagainya masih sering saya temui.

Komentar seperti “Ah galucu” ini sebenarnya memalukan, dan tak perlu di katakan, mengingat sebuah selera humor itu berbeda beda setiap orang nya, mungkin seharusnya jika menemukan hal yang tidak membuat anda terhibur, maka tinggalkan karena mungkin itu bukan untuk anda.

Orang orang biasanya berlindung di balik kata kritikan, sedangkan apa yang mereka lontarkan itu jelas murni hujatan, tidak seperti kalimat kritik yang sering saya lihat dan pelajari.

Kadang selalu membenarkan apa yang di katakanya dengan menambahkan kalimat “Lah terserah gua komenan gua juga..“, tapi sekali lagi ini sosial media, siapapun bisa saja melihat, mendengar, dan melakukan hal yang sama dengan cepat menyebar.

lu kalo gamau di tendang ma orang di jalan gausah so soan kencing di jalan, karena yang bakal nyium baunya bukan lu doang, kalo lu bilang terserah gw. ya jangan nyalahin siapapun kalo ada yang sampe nendang lu, karena itu jalanan bukan punya lu juga boy.”

– Qorygore

Kadang ada juga yang menganggap ini tidak sesuai dengan Norma Masyarakat dan cenderung tidak mendidik, “Apaan kaya ginian gak mendidik, gak mencerdaskan bangsa!“.

Harusnya sebuah komedian atau pembawa humor itu tidak di pandang dari bagaimana iya menyampaikan sebuah komedinya, karena komedian itu bukan acuan sebuah pendidikan, itu mindset yang perlu di luruskan, karena menurut saya mengharapkan hal mendidik itu biasanya di tokoh agama, guru, dan disekolah.

“Mereka selalu ekspektasinya di orang yang salah, Berharap sesuatu yang mendidik di Coki Pardede? Ya gabisa, the comedian is supposed to be funny, not supposed to be right.”

Coki Pardede 2020

Jenis Komentar Yang satu ini “Keliatan banget editan nya” juga tak luput untuk selalu di lontarkan, biasanya sebuah komentar ini mengacu pada sebuah postingan tentang Seni Editing, Menurut saya bukankah ini sebuah editan sehingga tidak perlu di katakan lagi, sebuah Seni Editing dari seorang ahli saja masih tak lolos dari komentar seperti itu, ntah apa yang mendasari mereka menghujat Seni Editan yang smooth, apakah ingin mendapatkan sebuah pengakuan hebat dari orang lain juga?

Kesimpulan Saya.

Dari tulisan saya di atas, muncul sebuah pertanyaan sejuta Dollar, sebenarnya siapa mereka ini? Apakah mereka ini sebuah kelompok orang yang di bayar untuk menghujat apapun, atau orang tua yang baru memegang gadget mahal, atau malah anak kecil yang baru mengenal dunia? Di Facebook terbagi menjadi beberapa golongan, tapi yang sering saya temui hal seperti ini merujuk ke Netizen orang tua yang baru pertama kali bermain Sosial media.

Baca Juga: Emang Ada Sih Sama Anak 90 an?

Bahkan secara mengejutkan Justru Para Remaja yang selalu memiliki kemajuan dalam berfikir di internet di banding dengan para orang tua. Tidak ada keraguan dalam pengalaman sebuah kehidupan orang tua, namun dalam hal ini orang tua masih sangat tertinggal dalam memahami Etika Di Dalam Kehidupan Virtual. Dan Ini sangat di sayangkan mengingat Region Indonedia memiliki jumah pengguna aktif internet terbanyak di dunia. Maka sebuah Permainan kata yang cerdas dan tepat memang di butuhkan untuk menjawab Komentar – komentar ini sebagai bentuk Informasi yang masih sesuai dengan Etika yang ada. Be Smart Bro.

“Indonesian Have Two Side, sebagai orang teramah dan paling tidak sopan seasia tenggara”

Tanda si penulis

– Fal Gulam –

1 Komentar

  1. avatar indriyani indriyani berkata:

    sangat membangke kan wkwk

    Suka

Tinggalkan Komentar